Minggu, 07 September 2008

Pentingnya sebuah keputusan

Keputusan terberat dalam hidupku saat ini adalah menentukan seseorang yang bisa menjadi pendamping selama hidupku. Kadang aku berfikir inikah waktu yang tepat.... atau sebenarnya masih banyak jalan yang mesti kulalui untuk menemukannya.......Sejujurna aku tidak pernah tau, dan aku masih ragu......Sejujurna aku takut melangkah, menghadapi masa depan.....

Ternyata komitmen adalah hal yang penting, tapi apakah komitmen hanya berfungsi sebagai pengikat dan rasa aman saja????? Apakah berhak bila setiap orang yang memiliki komitmen bertindak seenaknya karena merasa nyaman dengan komitmen sehingga melupakan hal-hal kecil yang harusnya dijaga..... ????? Esensi komitmen yang mulai dipertanyakan..... khususnya bagi hati ini.

Kadang aku berfikir dan menjadikan ini sebagai suatu dilema dalam hidup... Masa lalu telah menciptakan trauma yang berkepanjangan yang sulit dihempaskan. Komitmen pun terasa sebagai tameng dalam suatu hubungan Dongeng klasik masa lampau tetap sebagai sebuah dongeng, yang tak pernah mampu merasuki otak untuk berharap menjadi suatu kenyataan yang sempurna.

Kebohongan demi kebohongan telah membalut hati ini agar terasa nyaman.... sampai pada kebohongan yang menghantarku melukai orang yang kusayang pertengkaranpun terjadi dan tidak bisa dielakkan dan aku... kembali bertanya apakah komitmen itu masih berlaku dan bertahan???? karena sejujurna aku sendiri bingung, dan sudah lupa untuk bertindak dengan akal sehat. Mungkin aku letih...

Tapi keputusan awal dalam berkomitmen talah dibuat.....
dan seharusnya aku mampu membersihkan segala sampah yang tengah merong-rong hati dan perkataanku. Tengah ada hati yang tulus menerima dan berserah pada diri ini tengah kusakiti.
Dan dengan sesal mungkin dia memendam kekecewaan yang besar terhadap langkah2 besarku yang salah. Aku menyesal.... dan tengah menerima konsekwensi yang menurutku cukup berlebihan.

Ternyata menjalankan apa yang kita putuskan tidaklah mudah...
Butuh perjuangan, penerimaan da kepercayaan yang besar
dan aku masih larut dalam ruang yang sama tanpa mampu beranjak
Apakah aku tengah siap berkomitmen dengan serius??

Terlalu banyak kata tersumbar keluar, tanpa esensi yang mendalam
Terlalu banyak penekanan perasaan yang mulai berkecambuk
Tapi kini aku akan diam... mengerem semua perkataan ku
dan lebih menenangkan perasaanku.....
bentuk usaha dari suatu keputusan yang tengah aku approval

Maafkan aku telah melukai banyak hati.....

Tidak ada komentar: